Posts

Artikel Motivasi: Batu Kecil

Artikel Motivasi: Batu Kecil

Post by : Outbound Malang

Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjannya yang ada dibawahnya. Pekerja itu berteriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.

Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi uasahanya yang kedua pun memperoleh hasil yang sama.

Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya kea rah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dank arena merasa sakit, temannnta menengadah ke atas? Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.

Tuhan kadang0kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Seringkali Tuhan melimpahi kita dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Karena itu, agar kita selalu mengingat kepadaNya, tuhan sering menjatuhkan “batu kecil” kepada kita.

ncoming search terms for the article:

– Outbound di Malang

Outbound Malang

Outbound Training Malang

Pelatihan Motivasi

Pelatihan SDM

– Outbound Games

Artikel Motivasi : Sakit membawa Nikmat

Sakit membawa Nikmat

Post bu Outbond Malang

Adalah sesuatu yang lazim bila sebagain kita jatuh mengeluh tatkala sakit. Tubih lugnglai, wajah kuyu, dan pudar cahayannya. Padahal, semakin banyak kita mengeluh, maka akan semakin tersa pula sakitnya. Yang paling membahayakan adalah pikiran kita tidak terkuasai dengan baik. Biasannya menerawang jauh, realitas yang ada didramatisasi, segalanya dipersulit dan dikembangkan, hingga makin parah dan menengangkan.

Orang yang terkena gejala tumor misalnya, akan menjadi sengsara jika yang menjadi buah pikirannya adalah sesuatu yang lebih mengerikan dari kondisi sebenarnya. Ah, jangan-jangan tumor ganas. Bagaimana kalau merambat ke seluruh tubuh, sehingga harus operasi?Lalu, bagaiamana kalu operasinya gagal?Belum lagi biayanya yang pasti akan sangat mahal. Bila hal ini terjadi, maka orang tersebut akan jauh lebih menderita daripada kenyataan sebenarnya. Hal ini terjadi karena kesalahan cara berpikir. Ia belum paham terhadap hikmah dari penyakit yang menimpanya, sehingga salah dalam menyikapinya.

Hasilnya jelas: rugi dunia akhirat. Sikap mental semacam ini terus harus segera kita atasi. Memang benar badan kita harus sehat, karena hanya dengan badan sehatlah gerak hidup kita menjadi  lancar. Kalau pun tubuh kita harus sakit, suatu saat nanti, maka hati kita harus tetap berfungsi dengan baik. Bagaiaman cara menyiasatinya?

Pertama, kita harus yakin bahwa hidup kita akan selalu dipergilirkan. Boleh jadi sekarang kita sehat, tapi esok hari kita sakit. Ini adalah sebuah keniscayaan. Kita harus yakin bahwa segala yang terjadi di dunia ini ada genggaman Tuhan.

Begitu pula kalau Tuhan menghendaki kita sakit. Itu adalah hal yang wajar, karena tubuh kita adalah milik-Nya. Kenapa kita harus kecewa dan protes? Ibarat seseorang menitipkan baju miliknya kepada kita. Kalau suatu saat diambil kembali, maka sangat tidak layak bila kita menahannya. Alangkah baiknya bila kita memilih ridha saja dalam menerima semua yang terjadi. Segala kekecewaan, penyesalan, dan keluh-kesah, sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah. Tugas kita adalah ridha akan ketentuanNya dan berikhtiar seoptimal mungkin untuk bertobat.

ncoming search terms for the article:

– Outbound di Malang

Outbound Malang

Outbound Training Malang

Pelatihan Motivasi

Artikel Motivasi : Ibunda, Kenapa Engkau Menagis?

Artikel Motivasi: Ibunda, Kenapa Engkau Menagis

Post by : Outbound Malang

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya.”Ibu, mengapa ibu menagis?”.Ibunya menjawab,”Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak”. “Aku tak mengerti” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak pernah menengerti…”

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. “ Ayah, mengapa ibu menangis?Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?”Sang ayah menjawab, “ Semua wanita memang menangis tanpa ada sebab yang jelas. “ Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian. Si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menagis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan.” Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?”

Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,

“Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganaya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih saying, utnuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya.

Perasaaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan kepadanaya kebijaksanaan, dan kemapuan untuk memberikan pengertian dan meyadarkan, bahwa suami yang baok adalah tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi.

Dan akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan.”

Maka, dekatlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup, karena dikakinyalah kita menemukan surga

Incoming search terms for the article:

– Kasih sayang ibu

– Surga di telapak kaki ibu