Artikel Motivasi:BIJAKSANA

Post by : Outbound Malang

Allah memerintahkan berbuat adil, melakukan kebaikan dan dermawan terhadap kerabat. Dan Ia melarang perbuatan keji, kemungkaran dan penindasan. Ia mengingatkan kamu supaya mengambil pelajaran.

– Q.S. 16 Surat An Nahl (Lebah) Ayat 90 –

Untuk memahami suara hati, perlu disadari secara sungguh-sungguh, bahwa semua sifat-sifat itu dirancang melalui satu kesatuaan tauhid, yang tidak dapat berdiri sendiri secara terpisah, namun bersifat esa atau satu. Semua dilaksanakan secara seimbang, itulah pencerminan dari Allah Sang Maha Bijaksana. Maka untuk memiliki suatu kecerdasan emosi, sepatutnya kita berpedoman serta mempelajari secara keseluruhan mengenal sifat-sifat Allah itu, itulah sumber dari suara hati kita. Pemahamannya tidak bisa diambil satu persatu untuk kepentingan atau selera pribadi saja, dengan mengabaikan sifat-sifat yang lain. Ingat, sifat Allah Yang Maha Bijaksana, pemahamannya haruslah melalui suatu mekanisme berpikir dan pelatihan yang terarah melalui Rukun Iman dan Rukun Islam. Tidak bisa pula hanya dipahami melalui otak atau sarana logis, tetapi harus melalui pencernaan hati yang suci bersih.

Pada hakikatnya segala keputusan yang akan anda ambil, jika dilandasi oleh dan karena Allah, anda akan menemukan sebuah kebijaksanaan mulia dengan penuh percaya diri. Keterbukaan berpikir, yang merupakan hal esensial dalam pengambilan keputusan. Sebuah proses dinamis di mana kita mengambil atau memilih di antara beragam alternatif. Keterbukaan dalam berpikir di mana di dalamnya terdapat proses memilah dan memilih, sebuah cerminan sifat bijaksana yang terpancar dari spektrum iman.

Saya akan mencoba memberikan beberapa contoh sikap seseorang yang berusaha untuk bersikap bijaksana (99 Thinking Hats)

  • Dorongan ingin berkuasa, tidak bisa berdiri sendiri, harus juga suci dan bersikap rahman dan rahim serta adil.
  • Dorongan ingin mencipta, juga tidak bisa berdiri sendiri, harus berhitung, dan berilmu.
  • Dorongan ingin sejahtera, juga tidak bisa berdiri sendiri, harus suci, juga tegas, dan membela kebenaran.
  • Dorongan ingin mandiri, juga tidak bisa berdiri sendiri, harus terpercaya, kokoh, dan harus memulau suatu langkah.

Semua itu barulah sebagin kecil dari sembilah puluh sembilan sifat-sifat Allah, yang merupakan sumber suara hati itu.

Saya akan memberikan beberapa contoh nyata dari pengertian di atas; Levi Strauss, pabrik pembuat pakaian raksasa, menghadapi suatu dilema sehubungan dengan dua sub-kontraktor jahit di Banglades, yang menggunakan tenaga kerja anak-anak. Para aktivis hak asasi manusia Internasional terus menekan Lwvi Strauss untuk tidak lagi memperbolehkan kedua kontraktor itu menggunakan pekerja di bawah umur. Namun, investor perusahaan menemukan bahwa jika anak-anak itu kehilangan pekerjaan, mereka menjadi miskin dan mungkin bisa jatuh ke lembah prostitusi. Haruskah perusahaan memecat mereka, guna melindungi mereka dari nasib yang lebih buruk? Solusi kreatif dalam hal ini adalah tidak memilih mana pun dari alternatif tadi. Levi Strauss memutuskan untuk tidak mencoret nama anak-anak itu dari daftar upah, sementara mereka tetap bersekolah secara paruh waktu, dan kemudian ketika mereka mencapai empat belas tahun, usia dewasa di negeri itu, perusahaan menarik mereka kembali bekerja. inilah contoh penggabungan dari beberapa dorongan suara hati ketika Levi Strauss harus membuat suatu keputusan yang rumit berupa dorongan ingin memelihara, ketika harus mempertahankan aksistensi perusahaan, sekaligus dorongan ingin melindungi ketika harus mencegah anak-anak dari lembah kemiskinan dan prostitusi, dan dorongan untuk memberikan kepada anak-anak. Serta dorongan suara hati untuk bersikap adil dan bijaksana. Inilah yang dimaksud satu kesatuan tauhid atau prinsip esa (99 Thinking Hats). Hasil Thawaf Suara Hati.

Ketika saya menjajaki suatu kemungkinan kerjasama dengan salah satu bank di indonesia dalam pemasaran kartu diskon sekaligus ATM, saya mengadakan suatu pertemuan dengan salah seorang pimpinan cabang suatu bank. Dengan pongah dia berkata kepada saya: “Kami tidak memerlukan suatu kerjasama apa pun, karena saat ini kami sedang melakukan ekspansi pembukaan kantor cabang dan ATM di dua puluh tujuh propinsi di Indonesia. Dan Kami akan menyaingi salah satu bang terbesar di Indonesia, dalam waktu dekat ini.” Beberapa tahun kemudian bank tersebut tutup dan diambil alih oleh pemerintah. Pemiliknya raib hingga kini. Kisah ini menggambarkan bahwa apabila hanya mengikuti satu suara hati saja seperti dorongan menjadi yang terbesar, tanpa mempertimbangkan suara-suara hati yang lain seperti kesabaran, perhitungan, dan kebijaksanaan, justru akan melahirkan suatu kegagalan dan kehancuran.

Ketika saya sedang menulis buku ini, saya sedang sibuk membantu salah satu perusahaan sejenis asuransi kesehatan. Saya diminta bantuan untuk menjual saham perusahaannya dalam waktu yang mendesak. Perusahaan itu sedang kesulitan likuidasi. Lalu saya minta tim manajemennya mempresentasikan sekaligus mendiskusikan permasalahan. Saya bisa menarik kesimpulan bahwa perusahaan tersebut telah melakukan “over servicing” atau pelayanan yang berlebihan sehingga mengakibatkan kerugian secara finansial. Saya menganjurkan mereka segera membuat rencana perbaikan di tingkat pelayanan agar sesuai dengan jumlah pendapatan mereka, ke dalam bentuk proposal. Kemudian proposal itu saya tawarkan ke beberapa investor, tetapi umumnya mereka menolak dengan alasan kondisi ekonomi yang kurang baik saat ini untuk melakukan suatu investasi. Setelah saya coba tawarkan ke sana-sini, akhirnya saya bertemu dengan salah seorang konglonerat Indonesia. Ia bersedia untuk mengambil alih sebagian besar saham perusahaan itu. Peristiwa ini melukiskan bahwa dorongan ingin memberi yang terbaik harus juga disertai dengan suara hati untuk berhitung dengan cermat dan suara hati untuk memelihara dan mempertahankan perusahaan (99 Thinking Hats).

Terjadinya perbedaan-perbedaan pendapat sebenarnya adalah perbedaan prioritas dari dorongan hati. Akanlebih mudah untuk memahami pikiran dan keinginan orang lain apabila lebih dulu memahami makna 99 Thinking Hats ini. Bahkan anda akan memiliki suatu radar hati yang mampu membaca suara hati orang lain apabila hafal dan paham sifat-sifat Allah yang merupakan dasar dari suara hati manusia. Inilah Empati dalam Star Principle. Anda akan semakin mudah masuk dan menyelami hati sanubari orang lain, dengan mengetahui apa tangisan dan apa impian orang lain.

Sungguh, Allah memerintahkan kepadamu menyampaikan amanat kepada orang yang berhak menerimanya. Dan jika kamu menetapkan hukum antara manusia, hendaklah kamu menghukum dengan adil.sungguh, alangkah indahnya peringatan yang Allah berikan kepadamu! Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat!

– Q.S. 4 Surat An Nisaa’ (Wanita-wanita) Ayat 58 –

Incoming search terms for the article:

Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training

Artikel Motivasi: MENTAL BUILDING MEMBANGUN MENTAL

Sungguh, orang-orang yang beriman dan melakukan amal kebaikan merekah mahluk sebaik-baiknya.

– Q.S. 98 surat Al Bayyinah (Bukti Nyata) Ayat 7 –

Setelah melalui Bagian Satu, yaitu “Penjernihan Emosi”, anda diharapkan sudah bisa mengenali tujuh faktor yang dapat membelenggu God-spot (fitrah), yaitu: prasangka negatif, prinsip hidup, pengalaman, kepentingan dan prioritas yang subyektif, sudut-sudut pandang, pembanding yang tidak obyektif, dan literatur-literatur. Pada bagian tersebut anda diharapkan sudah mampu mengantisipasi dan menjernihkan hati dan pikiran anda yang mungkin terbelnggu, baik secara disadari atau tanpa disadari.

Pada bagian “anggukan Universa”, saya berharap akan timbul suatu kesadaran diri bahwa pada dasarnya manusia memiliki hati yang universal, dengan syarat anda telah memiliki kejernihan hati, serta sudah terbebas dari ketujuh belenggu di atas. Juga akan muncul suatu kesadaran diri bahwa pada hakikatnya anda diberikan suatu karunia oleh Tuhan untuk bebas memilih reaksi anda sendiri terhadap suatu permasalahan yang timbul, atau terhadap suatu gagasan yang dimiliki (freedom of choice). Pada Bagian Satu itu, anda diharapkan juga sudah menyadari akan arti pentingnya efektifitas Bimillahirrahmanirrohim dan keseimbangannya, yang mendahulukan upaya ketimbang menunggu hasil, serta selalu bersikap rahman dan rahim, dan memiliki pemahaman akan arti penting kecerdasan emosi dan spiritual atau ESQ.

Pada Bagian dua ini, setelah anda memiliki kejernihan hati, maka anda akan mulai diisi dan dibangun melalui enam Prinsip yang didasarkan atas Rukun Iman, yaitu membangun prinsip bintang sebagai pegangan hidup; memliki prinisp malaikat sehinggat anda selalu dipercaya oleh orang lain; memiliki prinisp kepemimpinan yang akan membimbing anda menjadi seorang pemimpin yang berpengaruh; menyadari akan arti pentingnya prinsip pembelajaran yang akan mendorong kepada suatu kemajuan; mempunyai prinsip masa depan, sehingga anda akan selalu memiliki visi, dan terakhir yaitu memiliki prinsip keteraturan, sehingga tercipta suatu sistem dalam satu kesatuan tauhid, atau prinsip esa di dalam berpikir.

Setelah melalui pemahaman ekeenam prinsip ini, maka diharapkan anda akanmemiliki suatau landasan kokoh untuk memiliki sebuah kecerdasan hati, yang terbentuk di dalam diri anda. Dan yang terpenting adalah bahwa anda mempunyai suatu pegangan pasti, berupa sebuah prinsip yang sangat kuat dan tidak akan berubah meskipun menghadapi berbagai rintangan dan permasalahan yang sangat berat sekalipun, prinsip in akan abadi selamanya. Inilah sumber kebahagiaan dan ketenteraman di dalamhidup anda dan landasan bagi suatu kecerdasan emosi yang tinggi dan pintu gerbang menuju suatu keberhasilan baik lahir maupun batin.

Semua hasil karya terbaik manusia yang pernah ada, baik yang berbentuk fisik maupun nonfisik, awalnya tercipta melalui proses berpikir dalam alam pikiran. Kemudian dikembangkan dan diwujudkan pada alam nyata. Marilah kita simak contoh pertama, ketika sebuah mobil tercipta dalam berbagai bentuk, type, ukuran, dengan segala kecanggihannya. Terbayangkah dibenak kita, bahwa berabad-abad lalu ada orang yang menciptakan sebuah imajinasi mobil dalam pikirannya kemudian mewujudkannya di alam nyata? Contoh kedua, siapa menyangka air putih yang sehari-hari kita minum, ternyata menjadi sebuah bisnis besar “air mineral’? contoh-contoh di atas memberikan kita sebuah pemahaman bahwa betapa kekuatan berpikir (iman) memiliki potensi besar bagi hidup manusia.

Proses berpikir yang efektif memiliki dasar dan kerangka rujukan yang jelas, dengan didasari rasa tanggung jawab iman. Iman di sini yaitu menyakini dalam hati, mengucapkan dalamlisan serta mengamalkan dalam perbuatan. Iman sebagai dasar rujukan dalam proses berpikir secara aktual yang dimanifestasikan dalam bentuk amalshaleh yaitu untuk mewujudkan rahamatan lil ‘alamin, keseimbangan bagi alam dan segala isinya.

Untuk mencapai kondisi yang rahmatan lil ‘alami, dimana sebuah cita-cita luhur dapat digantungkan setinggi-tingginya, ada dua hal pokok yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Yang pertama, membangun prinsip berpikir yang benar dengan pijakan dasar yang kuat. Konsep berpikir di sini berhubungan kuat dengan kemampuan nalar (reasoning power) seseorang. Dengan kemampuan nalar ini seseorang dapat mencerna unsur-unsur penting seperti pandangan, paradigma, nilai-nilai dan visi ke depan.pokok yang kedua dinamakan kecerdasan emosi (emotional quotient) yang meliputi unsur suara hati, kesadaran diri, motivasi, etos kerja, keyakinan, integritas, komitmen, konsistensi, presistensi, kejujuran, daya tahan danketerbukaan. Ia semacam motivator dan inspirator utama bagi seseorang untuk mengerahkan seluruh potensi berpikir atau bernalar secara kognitif.

Pada gambar ESQ Model terdapat enam azas yang berfungsi untuk melindungi pusat orbit, atau Fitrah (God Spot). Keenam azas ini berfungsi untuk menjaga agar fitrah di pusat tetap utuh terpelihara. Dan karakteristik dari keenam azas ini adalah sesuai dengan sifat dasar manusia (human nature) yang sejalan dengankehendak hati nurani, serta kehendak alam, sebagai cerminan dari kehendak Allah Yang Maha Kuasa. Bahkan urutan keenam azas ini disusun secara sistematis sehingga saling menopang antara satu prinsip dengan prinsip yang lain. Semuanya bergerak melingkari titik Tuhan, yaitu berkiblat kepada kehendak Allah. Enam azas ini adalah metode ringkas untuk membangun metal hanif, sehingga seseorang akanmampu mendengar bisikan suara hati ilahiah sebagai bimbingan dari Sang Maha Sempurna.

Incoming search terms for the article:

Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training

Pemimpin yang Dicintai

Post By : Outbound Malang

Kasihanilah mereka yang ada di bumi niscaya yang di langit akan mengasihi kamu.

Anda bisa mencintai orang lain tanpa memimpin mereka, tetapi anda tidak bisa memimpin orang lain tanpa mencintai mereka. Peryataan ini, dapat melukiskan bahwa seorang pemimpin harus mampu berhubungan secara baik dengan orang lain, dengan cara mencintai mereka. Seorang pemimpin tidak bisa hanya menunjukkan prestasi kerjanya saja. Tangga ini tidak boleh dilewati, apabila dilewati maka akbiatnya orang lain tidak akan mendukung anda, karena mereka tidak akan menyukai anda.

Prinsip Bismillahirrohmanirrohim adalah jawabannya. Selalu berusaha mengerti dan menghargai setiap individu, dan selalu bersikap rahman serta rahim. Berbeda dengan teknik sekarang yang banyak diajarkan, yang lebih menekankan pada teknik luar, seperti senyum, mengingat nama, mau mendengar, atau fokus pada minat orang lain. Sedangkan Nabi Muhammad Saw lebih dari sekedar ‘kulit’ tersebut. Sang Nabi penutup lebih memilih ‘inner beauty’ yang begitu memukau dan tanpa cacat. Saya akan memberikan contoh salah satu sifat Nabi Muhammad SAW berdasarkan buku “Sejarah Hidup Muhammad”: Yang menambah dakwah itu berkembang sebenarnya karena teladan yang duberikan oleh Nabi Muhammad SAW sangat baik sekali; Hak setiap orang masing-masing ditunaikan. Pandangannya kepada orang yang lemah, terhadap piatu, orang yang sengsara dan miskin adalah pandangan seorang bapak yang penuh kasih, lemah lembut dan mesra.

Sikap rahman dan rahim-nyalah yang menjadi landasan dasar bagi awal perjuangannya. Sikap ini terbukti efektif untuk membangun suatu pengaruh dan sebagai tangga pertama kepemimpinannya. Nabi Muhammad SAW telah melalui tangga ini untuk menjadi seorang pemimpin yang dicintai. Beliau juga adalah seorang yang sangat jujur, sehingga dijuluki ‘Al Amin’ atau orang yang dipercaya.

Saya akan memberi contoh lain tentang penampilannya sehari-hari: bila ada orang yang mengajaknya berbicara, ia mendengar dengan hati-hati sekali, tanpa menoleh kepada orang lain. Tidak hanya mendengarkan kepada yang mengajaknya berbicara, bahkan ia memutarkan seluruh tubuhnya. Bicaranya sedikit sekali, lebih banyak mendengar. Bila berbicara selalu bersungguh-sungguh, tetapi sungguh pun begitu, ia pun tidak melupakan ikut membuat humor dan bersenda gurau, dan yang dikatakannya selalu yang sebenarnya. Kadang ia tertawa sampai terlihat gerahamnya – dan menghargai orang terbawa oleh kodratnya yang selalu lapang dada – dan menghargai orang lain. Bijaksana ia. Maurah hati, dan mudah bergaul.

Saya akan memberikan contoh lain tentang sikapnya yang selalu adil dan bijaksana: Hampir terjadi perang saudara di Quraisy, ketika dua kelompok berselisih tentang siapa yang mendapat kehormatan untuk meletakkan batu “Hajar Aswad” di tempatnya. Tatkala mereka melihat Muhammad, adalah orang pertama yang memasuki tempat itu, mereka berseru: “Ini, Al Amin; Kami dapat menerima keputusannya.” (Nabi Muhammad SAW diminta untuk membuat sebuah keputusan). Ia berpikir sebentar, lalu katanya: “Kemarikan sehelai kain.” Setelah kain dibawakan, dihamparkannya dan diambilnya batu itu, lalu diltekkannya dengan tangannya sendiri, kemudian katanya: “hendaknya setiap ketua kabilah memegang ujung kain ini.” Mereka (yang berselisih) bersama-sama membawa kain tersebut ke tempat batu yang akan diletakkan itu. Lalu Muhammad mengeluarkan batu itu dan meletakkannya di tempatnya. Dengan demikian perselisihan itu berakhir di bencana dapat dihindarkan.

Inilah contoh sifat seorang pemimpin yang adil dan bijaksan, sebuah titik tolak sebelum dia meniti tangga kepemimpinan berikutnya. Pada tahap ini, pengikutnya akan merasa senang untuk berada di dekatnya dan mereka akan mengikuti karena mereka merasakan perhatian, kasih sayang dan kejujuran Rasulullah. Nabi Muhammad SAW mampu menunjukkankepedulian sosial, dengan ketulusan hatinya. Dia mampu memupukl hubungan yang baik dengan para sahabat dan lingkungan sosialnya.

Karenanya, maka ia (tiada) tergolong orang beriman yang saling menasehati, supaya bersabar dari berkasih-sayang.

– Q.S. 90 Surat Al Balad (Negeri) Ayat 17 –

Incoming search terms for the article:

Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training