Prinsip Bismillah: Dalam Bidang Manajemen

Post by: Outbound Malang

Karenanya maka ia (tiada) tergolong orang beriman yang saling menasehati, supaya bersabar dan berkasih sayang.

– Q.S. 90 Surat Al Balad (Negeri) Ayat 17 –

Beberapa contoh sederhana tentang prinsip Bismillah adalah keseimbangan antara hasil dengan “the six M” (man, material, method, machine, money, market). Yaitu kasih dan sayang kepada manusia, memperhatikan materialnya, menyempurnakan metodenya, menjaga kualitas mesin dan mutu pelayanan, mempertimbangkan investasi, dan berusaha memberi kepuasan kepada market. Selanjutnya memberikan perhatian penuh pada perencanaan organisasi, unsur motivasi dan pengawasan serta evaluasi, dan langkah penyempurnaan secara terus-menerus atau yang disebut dengan ihsan. Semuanya didasari prinsip rahman dan rahim dengan kesadaran penuh sebagai rahmatan lil ‘alamin. Hasilnya, komitmen dan integritas yang sangat tinggi karena merasa dirinya dilihat oleh Tuhan, bukan karena atasan, atau sekedar upah belaka. Kesadaran diri sebagai hamba Tuhan. Jabatan manajer, baginya  adalah sebuah dedikasi dankepercayaan tanpa ‘reserve’. Penghasilan menurutnya hanyalah ‘rapor’ yang diterima atas kesimbangan prinsip Bismillah. Sikap ini akan mendorong suatu kreatifitas tanpa henti untuk menciptakan mutu pelayanan dan produk yang lebih berkualitas.

Sikap teringat pada seorang teman baik saya, sebut saja “DS”. Waktu “DS” masih bekerja pada sebuah bank saya, gajinya relatif kecil. Ketika itu dia menghadapi suatu masalah, salah seorang nasabahnya tidak bisa membayar hutangnya, dan nasabah tersebut tidak punya uang lagi. Kemudian saat “DS” memeriksa gudangnya, dia melihat tumpukkan marmer yang tidak terpakai, milik sang debitur. Maka dibuatlah suatu kesepakatan bahwa bank akan mengambil marmer tersebut, tiba-tiba “DS” teringat lantai di kantornya. Marmer itu kemudian dimanfaatkan. Tanpa mengharapkan apa pun dia telah mengeluarkan tenaga dan pikiran ekstra untuk memperbaiki lantai kantor tempat ia bekerja. namun tiba-tiba “DS” dipanggil atasannya dan tanpa ia duga sebelumnya, menerima selembar cek sebagai hadiah.

Hari ini setiap orang mendapat balasan menurut usahanya. Hari ini tiada kezaliman. Allah sungguh cepat membuat perhitungan.

Incoming search terms for the article:

Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training

Dalam Bidang Pemasaran

Post by : Outbound Malang

Dan katakanlah, “Bekerjalah.” Allah akan melihat pekerjaanmu, (juga) Rasul-Nya dan orang beriman. Kamu akan dikembalikan kepada (Allah), Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata kelihatan. Lalu Ia akan memberitahukan kepadamu apa yang kamu lakukan.

– Q.S. 9 Surat At Taubah (Taubat) Ayat 105 –

Prinsip Bismillah dalam suatu usaha, pekerjaan atau hubungan sosial pada dasarnya adalah suatu prinsip yang memperhatikan suatu keseimbangan antara memberi dan hasil yang diterima. Dalam seni pemasaran, prinisp Bismillah adalah bagaimana seorang manajer mampu menciptakan atau menemukan suatu kebutuhan, kemudian berusaha untuk menciptakan atau memberikan suatu produk baik berupa barang atau jasa yang dapat ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Meskipun hasilnya adalah suatu transaksi penjualan, namun tetap berprinsip pada kejujuran, keadilan, dan sifat rahman dan rahim.

Dalam seni penjualan atau direct selling, prinsip Bismillah berperan dalam hal bagaimana seorang wiraniaga menemukan dan memunculkan apa yang dibutuhkan oleh calon pembeli itu terlebih dahulu. Kemudian berusaha mempresentasikan produk dengan niat untuk memberi danmenolong dengan hati yang tulus karena sifat kasih sayang Allah. Ini berbeda denganpamri. Pamri adalah memberi dengan otak, sedangkan prinsip Bismillah adalah memberi dengan hati yang tulus. Dalam menejemen pemasaran, prinsip Bismillah adalah memberikan perhatian penuh pada bauran pemasaran atau marketing mix, yaitu memberi perhatian pada produk yang sesuai kebutuhan, harga terjangkau, strategi promosi yang jujur dan tulus dengan mempergunakan hati, dan pola distribusi yang bisa membantu orang lain untuk menjangkau produk dengan mudah.

Salah satu bidang usaha yang saya jalankan, sejenis asuransi kesehatan. Saya sering menerima keluhan dari pelanggan perihal cara penjualan agen pemasaran kami. Sebagian dari mereka sering merasa ditekan untuk membeli produk tersebut. Hal ini akan menghasilkan reputasi yang buruk pada asuransi ini. Kemudian para agen pemasaran itu kami kumpulkan. Saya bertanya mengapa keluhan itu bisa terjadi. Mereka menjawab karena mereka harus menghasilkan penjualan mencapai target. Kemudian saya tanyakan lagi bagaimana cara mereka menghadapi keberatan penjualan. Umumnya mereka menjawab bahwa mereka telah memberikan jawaban yang logis. Mereka tunjukkan bukti-bukti, dan angka-angka yang rasional.

Aha, saya tahu permasalahannya. Lalu saya adakan training intesif selama dua hari tentang kecerdasan hati. Saya jelaskan bahwa niat mereka haruslah berprinsip memberi dan menolong dengan kasih sayang yang tulus. Bukan saja berpikir dengan logika tetapi juga harus memperhatikan perasaan pembeli. Hati mereka harus bersih dan bukan berniat untuk merogoh kantong pembeli. Berangkat dari hati yang tulus untuk menyetarakan perasaan pembeli. Bekerja dengan hati, bukan dengan kepala. Kemudian saya minta mereka untuk membayangkan ibu mereka sendiri yang sakit keras dan harus berobat ke rumah sakit sedangkan mereka tidak punya uang saat itu dan sang ibu tidak memiliki kartu asuransi kesehatan. Apa yang anda rasakan? Hasilnya sungguh luar biasa. Mereka merasa mendapat kepercayaan diri kembali, sebagai agen marketing, melainkan merasa menjadi seorang penolong yang penuh dengan kasih dan sayang. Inilah penjualan dengan prinsip Bismillah. Mencari ridha Allah.

Incoming search terms for the article:

Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training

Artikel Motivasi: Contoh berpikir melingkar itu (99 Thinking Hats).

Post by : Outbound Malang

Tahun 1994, salah seorang sahabat saya, sebut saja si S menjabat sebagai General Manager pada sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang radio panggil nasional. Suatu hari ada seorang pelanggan yang memliki posisi dangat penting di Medan, dan bekerja di suatu lembaga keamanan nasional. Dia merasa kecewa dan sangat marah sekali kepada perusahaan radio panggil tersebut karena sebuah rahasia pribadi telah dibocorkan secara tidak sengaja oleh salah seorang operator radio panggil. Pelanggan tersebut menuntut dengan memberi dua alternatif kepada perusahaan, yaitu menutup kantor radio panggil tersebut atau memecat si operator yang bermasalah itu. Kepala cabang wilayah Medan tidak bisa menangani hal tersebut, karena sangat keras dan seriusnya ancaman tersebut. Kemudian si kepala cabang menghubungi si S yang sedang di kantor Pusat di Jakarta. Si S segera terbang ke Medan saat itu juga atas perintah Presiden Komisaris. Si S harus mempertimbangkan tiga faktor saat itu, secara bersamaan. Pertama, dia harus menyelamatkan perusahaan. Kedua, dia harus mampu memenangkan sang pelanggan. Dan ketiga, dia juga memperhatikan masa depan di operator bermasalah itu.

Keputusan yang diambil si S adalah, si operator harus menjelaskan permasalahan ini kepada sang pelanggan sekaligus meminta maaf. Kemudian karena kesalahan dan kelalaian si operator maka S meminta agar dia mengundurkan diri, dan di S mengeluarkan surat pemberhentian yang ditandatangani oleh operator itu dan dirinya sendiri selaku General Manager. Kemudian S memberikan kesempatan kepada si operator untuk bekerja kembali pada perusahaan, dengan syarat dia menemui dan meminta maaf kepada si pelanggan, dan harus mendapatkan tanda tangan dari sang pelanggan. S sebelumnya mengajarkan kepada si operator untuk berani meminta maaf dan berani bertanggung jawab atas kesalahan yang telah diperbuatnya secara jantan. Dia harus menghadapi permasalahan ini.

Selanjutnya si operator menemui sang pelanggan. Ketika bertemu dia langsung menjelaskan bahwa dialah yang bermasalah telah membocorkan rahasia tersebut secara tidak sengaja. Sang pelanggan langsung menampar wajah si operator. Namun si operator tetap diam dan terus menunduk (sesuai anjuran S). lantas si operator mengatakan: “Saya minta maaf atas kesalahan saya. Saya sekarang sudah diberhentikan dari perusahaan tempat saya bekerja di mana saya mencari nafkah untuk anak dan istri saya.” Sang pelanggan tersebut langsung melampiaskan kemarahannya dengan kata-kata kasarnya.

Setelah berlangsung lebih kurang satu jam, sang pelanggan tampak merasa puas setelah menlampiaskan uneg-unegnya, si operator tetap diam seribu bahasa, sesuai nasehat S sebelumnya. Setelah sang pelanggan diam dan mulai rda amarahnya, si operator berkata denganlirih, “Pak, sekarang saya sudah minta maaf dan mengakui semua kesalahan saya. Saya pun sudah kehilangan pekerjaan sesuai dengan permintaan Bapak. Namun saya amat membutuhkan pekerjaan itu untuk menghidupi keluarga saya…Maafkanlah saya. Mohon dengan segala hormat kiranya Bapak bersedia menandatangani surat yang saya bawa ini, bahwa saya telah Bapak maafkan.” Sang pelanggan diam sejenak, menatap si operator yang kemudian berkata: “Sini saya tanda tangani!”

Setelah kejadian itu, keesokan harinya si operator langsung melapor kepada S sambil memperlihatkan surat yang sudah ditandatangani secara kasar oleh sang pelanggan. Operator tersebut langsung diterima kembali bekerja, sesuai janji S, sang General Manager. Dalam hal ini S telah menyelamatkan tiga pihak; perusahaan tidak jadi ditutup. Si operator bekerja kembali. Dan pelanggan puas karena telah diperhatikan dengan serius. Suatu pandangan keputusan yang bijaksana, yang berhasil mencakup semua sisi. Ia tahu bahwa sebenarnya manusia suka memaafkan apabila orang sudah mengakui kesalahannya. Dan ia pun tahu bahwa pelanggan itu membutuhkan perhatian, penghormatan, dan sebuah penghargaan. Keputusan yang diambil S sangat tepat, operator yang bersalah itu harus berani bertanggung jawab. Ia pun harus berani meminta maaf. Perusahaan harus tetap diselamatkan karena menyangkut ratusan nasib karyawan, dan masa depan operator itu tetap diperhatikan. Inilah contoh prinsip berpikir 99 Thinking Hats dengan mengingat sifat-sifat Allah (Asmaul Husna), atau bisa saya sebut bersikap dengan prinsip esa, dalam satu kesatuan pikiran dan tindakan. Thawaf Suara Hati.

Seorang karyawan teladan di suatu perusahaan meninggal dunia. ‘Karyawan Teladan’, sebuah julukan yang menjadi idaman setiap pegawai. Menjadi terhormat di mata atasan, di mata perusahaan, di mata masyarakat di mata keluarga. Ia mengorbankan banyak hal untuk mendapatkan julukan tersebut ketika ia sakit, ia mencoba menyembunyikan penyakitnya, agar tidak terlihat oleh atasan dan teman kerjanya, ia bertahan, hingga maut menjemput dirinya. Ia tidak pernah melaporkan kondisi sebenarnya. Ia memandang julukan Karyawan Teladan dari satu sisi saja, yaitu kehormatan di mata perusahaan. Tidak memandang sisi lainnya, kesehatan badannya, dan bahkan keselamatan dirinya. Ia tidak mencari kehormatan di mata Allah yang Maha Adil dan Bijaksana. Allah selalu mempertimbangkan semua aspek dari segala sudut pandang, agar menghasilkan keputusan yang Esa (terintegrasi). Sang karyawan yang malang itu telah menjadi korban “berhala kecilnya”. La Ilaaha Ilallaah.

“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikma dan peringatan yang baik. Dan bantalah mereka dengan (bantahan) yang lebih baik. Sungguh, Tuhanmu, Ia-lah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya. Dan Ia-lah yang lebih mengetahui orang yang mendapat bimbingan.”

– Q.S. 16 Surat An Nahl (Lebah) Ayat 125 –

Incoming search terms for the article:

Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training