MATERI : KONSULTASI SEGI TIGA

Post by : Outbound Malang

Tujuan

1.      Peserta mampu mengidentifikasi potensi kemampuan dirinya sebagai Pemandu Latihan berdasarkan persepsinya sendiri selama ini.

2.      Peserta mampu menghayati langsung pelaksanaan peran dan fungsi Pemandu Latihan sebagai Pembimbing, Peserta, dan sekaligus Pengamat dalam suatu proses pelatihan.

3.      Peserta menyadari makna umpan-balik dalam kegiatan pelatihan.

Pokok Bahasan

1.      Kemampuan-kemampuan Dasar Pemandu Latihan.

2.      Peran & Fungsi Pemanduan Latihan

3.      Prinsip-prinsip Umpan Balik dalam pelatihan

Waktu

180 menit efektif

Peralatan

1.      Kuisioner “Daftar Kemampuan Dasar Pemanduan Latihan” (LKK.I-2.A)

2.      Lembar Pengamatan (LKK.I-2.B).

Proses

1.      Penjelasan singkat tentang tujuan dan materi pokok kegiatan ini.

2.      Bagikan kuisioner “Daftar Kemampuan Dasar Pemandu Latihan” (LKK.I-2.A) kepada setiap peserta, beri penjelasan seperlunya, kemudian minta mereka mengisinya dengan tenang dan serius serta jujur. Untuk itu, katakan waktu cukup lama: 1 jam penuh!

3.      Setelah selesai, bagi peserta dalam kelompok-kelompok kecil, masing-masing 3 orang, kemudian bagikan Lembar Pengamatan (LKK.I-2.B) kepada setiap peserta, lalu jelaskan proses kegiatan yang akan berlangsung:

Tiap kelompok mengambil tempat saling terpisah dengan sebuah meja tulis dan 3 buah kursi melingkarinya.

Tiap peserta dalam tiap kelompok akan menjalankan peran sebagai:

–          Seorang Klien

–          Seorang Konsultan

–          Seorang Pengamat

Peran akan dilakukan secara bergiliran setiap 20 menit, sehingga dalam waktu 3 x 20 menit (1 jam), setiap peserta telah menglami semua peranan tersebut. Pemandu akan memberi tanda pada setiap pergantian waktu.

tugas masing-masing peran adalah:

–          Klien: menjelaskan hasil isian kuisionernya kepada Konsultan, alasan-alasan mengapa ia mengisi demikian, dan meminta tanggapan Konsutan.

–          Konsultan: mendengarkan penjelasan hasil isian kuisioner dari Klien serta alasan-alasannya, mendiskusikan hasil kuisioner tersebut dengan Klien dan mengajukan pendapatnya pada klien.

–          Pengamat: mengamati jalannya proses diskusi antara Klien dengan Konsultan dan menilai penampilan serta pelaksanaan tugas Konsultan berdasarkan Lembar pengamatan (LKK.I-2.B). pengamat tidak dibenarkan ikut campur dalam proses tersebut, cukup mengamati dan menilai saja.

4.      Selama kegiatan konsultasi berlangsung, Pemandu mengamati setiap kelompok dan mencatat hal-hal yang menarik dan dianggap penting untuk analisa nanti. Awasi agar konsultasi pada setiap kelompok berlangsung serius dan tidak “asal-asalan”.

5.      Setelah selesai, seluruh peserta diminta kembali dalam susunan kelas semula. Minta setiap peserta mengungkapkan proses, hasil, dan kesan mereka (baik sebagai Konsultan, Klien maupun pengamat). Catat hal-hal penting di papan tulis mengenai:

–          Cara dan sikap Konsultan menghadapi Klien, dan sebaliknya cara dan sikap Klien menghadapi Konsultan.

–          Hasil konsultasi antar setiap Klien dengan Konsultannya: apakah ada perubahan pada isian kuisioner semula akibat konsultasi tadi dan mengapa?

–          Hasil penilaian pengamat terhadap Konsultan serta proses konsultasi umumnya.

–          Kesan umum setiap peserta tentang manfaat kegiatan konsultasi tadi

6.      Analisa bersama semua hasil catatan tersebut ke arah kesimpulan tentang:

–          Keadaan sekarang rata-rata peserta dalam hal pemilikan kemampuan dasar Pemandu Latihan.

–          Fungsi dan peranan seorang Pemandu Latihan sebagai Pembimbing, Peserta atau Pengamat dalam sebuah proses pelatihan.

–          Makna umpan balik dalam proses pelatihan dan iskap seorang Pamandu Latihan terhadap umpan balik tersebut (baik dalam memberi atau menerima).

Variasi

1.      Setelah langkah-4, setiap peserta boleh saja diminta memberikan hasil isian Lembar Pengamatan mereka kepada Konsultan yang tadi mereka amati, atau bisa saja pada akhir latihan setelah langkah – 6.

2.      Setelah langkah-6, jika masih ada waktu, diskusi dan analisa lebih dilanjutkan, tentang: apakah peserta memahami lebih baik siapa Pemandu Latihan dari hasil kuisioner ini jika dikaitkan dengan hasil gambar mereka pada kegiatan sebelumnya? Dalam hal apa saja? Mengapa?

Incoming search terms for the article:

Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training

Materi:PRASANGKA

Post by : Outbound Malang

“Tuhan kami!”

“Janganlah jadikan kami (sasaran) godaan bagi orang tiada beriman. Dan ampunilah kami, Tuhan!”

“Sungguh, Kaulah Yang Maha Perkasa, Yang Maha Bijaksana.” (Q.S. 60 Surat Al Mumtahanah (Perempuan yang Diuji) Ayat 5 )

Pada tahun 1991, seorang Project director, sebut saja “Stn” membuat sebuah master plan disain konstruksi bangunan. Di dalam tim tersebut ada dua kelompok, tim interior dan tim arsitektur. Setelah berjalan lebih kurang tiga bulan, proyek tidak menampakkan kemajuan seperti diharapkan. Kemudian diadakan rapat tim. Dihadiri oleh kedua belah pihak dan dipimpin langsung oleh “Stn” sendiri. Mereka saling berdebat. Mereka bersilat lidah dan menyerang. Kemudian Project Director berkata pada keua tim tersebut: “Baiklah, kalau begini keadaannya terus-menerus saya akan mundur dari meeting ini. Silahkan saudara mengadakan pembicaraan berdua. Satu jam lagi saya akan datang untuk melihat perkembangannya.” Sejam kemudian mereka tampak sudah bisa berdamai dan berkerja sama kembali. Rupanya menurut “Stn”, sang Project Director, letak permasalahannya kedua kubu tim tersebut, masing-masing merasa bahwa pihaknya lebih menonjol, dan merasa lebih tahu bidang yang orang lain kerjakan. Itu mengakibatkan keterlambatan jadwal yang ditetapkan. Ataukah mungkin, salah satu dari kelompok tersebut ingin terlihat lebih hebat di hadapan Project Director itu?

Nabi Muhammad SAW mengingatkan:

“Janganlah kamu berdiri seperti orang-orang asing yang mau saling diagungkan.”

Sebuah contoh lain, seperti yang dialami sahabat saya, sebut saja SW. pada suatu hari di tahun 1987, SW sahabat saya yang juga bekerja sebagai tenaga profesional di N.V. Mugi itu ditawari oleh seorang supir taksi, membeli sebuah taksi. Mulanya SW merasa curiga dan berpikir, “Jangan-jangan saya akan ditipu.” Namun dia mengambil langkah yang megejutkan. Ia membeli taksi tersebut dan sekaligus memberikan kesempatan kepada si supir taksi untuk menjalankan taksi tersebut, dengan catatan harus bayar uang setoran sebesar Rp. 53.000,- / hari. Sementara rata-rata setoran saat itu adalah Rp. 65.000,-. SW mengatakan bahwa hitungan satu bulan adalah 30 hari, suatu hari adalah milik si supir taksi, atau dengan istilah yang disebutnya “bebas setor”. Mobil boleh dibawa pulang, tetapi perawatan seluruhnya adalah tanggung jawab si supir. Satu bulan kemudian si supir datang ke rumah SW bersama dengan taksinya sambil menunjukkan ‘segepok’ uang tunai dan berseru: “Lihat, saya sekarang sudah punya uang tabungan segini banyaknya!” Selanjutnya bisnis itu berjalan lancar. Sungguh sebuah pekerjaan yang betul-betul dilandasi dengan kepercayaan dan sebuah prasangka baik, akan menghasilkan sebuah hasil yang baik pula.

Tindakan seseorang sangat tergantung dengan alam pikirannya masing-masing. Setiap orang diberikan kebebasan untuk memilih responnya sendiri-sendiri. Ia bertanggung jawab penuh atas sikap yang ditimbulkan dari pikirannya sendiri. Andalah “raja” dari pikiran anda sendiri. Bukan lingkungan sekeliling anda. Namun lingkungan ikut serta berperan dalam mempengaruhi cara berpikir seseorang. Apabila lingkungannya pahit maka ia pun menjadi pahit, selalu curiga, dan seringkali berprasangka negatif kepada orang lain. Pikiran negatif ini semakin bertambah dan kian menguat ketika sistem informasi semakin maju. Dan media informasi seperti televisi, majalah dan koran terus “membombardir” pikirannya dengan berita-berita pembunuhan, penipuan dan kejahatan-kejahatan. Akhirnya ia pun terpengaruh, ia menjadi selalu berprasangka negatif dan curiga kepada oranglain. Prasangka negatif ini mengakibatkan orang menjadi bersikap “defenisi” dan tertutup, karena beranggapan bahwa orang lain musuh berbahaya. Cenderung menahan informasi dan tidak mau bekerja sama. Akibatnya justru ia sendiri yang akan mengalami kerugian, seperti turunnya kinerja, tidak mampu melakukan sinergi dengan orang lain, peluang-peluang emas yang terlewatkan, atau bahkan tersingkir di tengah pergaulan sosialnya. Baginya orang lain adalah musuh berbahaya. Padahal sebenarnya “Pikirannyalah” musuh yang lebih berbahaya.

Incoming search terms for the article:

Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training

Artikel Motivasi: Open Your Heart

Post by : Outbound Malang

Banyak orang bilang, cinta begitu sulit ditebak. Ia bagaikan burung yang menari-nari disekeliling kita, mengepakkan sayapnya yang penuh warna, memikat dan menarik hati kita untuk menangkapnya. Saat kita begitu menginginkan cinta dalam genggaman, ia terbang menjauh. Namun saat kita tidak mengharapkan, cinta hadir sekehendak hati kita. Memang, cinta adalah fenomena hati yang sulit dimengerti.

Sebenarnya kita tidak perlu memeras otak terlalu kera untuk mengerti cinta, bahkan semakin keras kita memikirkan cinta, maka semakin lelah pula kita. Cinta adalah untuk dirasakan, bukan dipikirkan. Yakinlah bahwa cinta yang kita inginkan akan datang pada saat yang tepat. Namun bukan berarti kita hanya duduk menanti cinta.

Sebarrkanlah cinta, pada keluarga, sahabat-sahabat dengan sesame. Dengan memberikan cinta, maka kita telah mengundang cinta untuk datang. Kita hanya perlu membuka hati. Biarkan kencantkan hatu yang memancar, mempesona cinta-cinta yang terbang di sekeliling kita untuk akhrinya hinggap dan bersemayam di hati kita selamanya

Incoming search terms for the article:

*outbound malang

*outbound di malang